small

Sabtu, 04 Mei 2013

Kukubur Kenangan

gambar: fos-community.com


Kukubur Kenangan
ada lubang yang kugali
untuk kuburmu
pada suatu pagi yang benderang
dan hangat. tapi getir hatiku
ku berlari ke belakang
masa silam
mengumpulkan segala kenangan
tentangmu

pertemuan dalam ruang
di sebuah persimpangan maya
ketika hatimu puing
dan tak tahu ingin kemana
ketika namaku disebut
yang ternyata pernah juga
kau berikan untuknya
lalu segala cerita juga tawa
kekesalan malam-malam kita
juga gelak sebab kelakar mesra

untuk apa kuletakkan lagi semuanya
dalam kotak kaca
yang selalu kupandangi ketika
rindu hinggap di atas genting

hujan telah menciptakan sungai
mengalir deras di pipiku
peti kayu telah kusiapkan
yang akan membusuk seiring waktu
melebur pada ragamu bersamaan
kuletakkan segala kenangan di dalamnya

kuburmu siap, sayang
telah kugali, tanganku sendiri
kenangan akanmu
kulupakan
lelaplah kau bersama rahasia
yang kau buat hanya untuknya



Jakarta, 12 Mei, 2011
@mentarimeida




Kuhapus Jejakmu

kuhapus jejakmu dalam malam
tanpa perlu ada lagi yang kita simpan dalam ingatan
kau pekat
jauhlah jauh
merayap pada dinding
kelam
sementara jam henti berdetik


Jakarta, 10 Mei, 2011
@mentarimeida



Nama Pada Batu Nisan

kau hanya nama pada batu nisan
yang kadang kuziarahi,
kutangisi kepergiaannya

kau hanya nama pada batu nisan
diam dan dingin
meski kuasini dengan hujan
airmata

kau hanya nama pada batu nisan
tempat terkubur segala memori
makam sakit hati


Jakarta, 3 Mei 2011
@mentarimeida




Sebuah Perjalanan

apa yang kau ingat di belakang
setelah jejakmu satu-satu menghilang
dalam sebuah perjalanan
tubuh yang lunglai atau jiwa
yang berbahagia

sementara kesunyian terus begini
apa lagi yang kau mau
semoga jalan tak sesat
dan kau masih ingat pulang



Jakarta, 29 April, 2011
@mentarimeida




Rindu

Pagi, Tuhanku pencipta segala rasa, juga rindu. Semalaman seharian rasa melayang pada sang petualang. Apa kabarnya, wahai Tuhan Yang Maha Tahu? Adakah aku yang pertama di pelupuk matanya pagi ini? Atau ia terlelap masih. Sehingga selamat pagi yang biasa luput.

Manis madu suaranya malam itu. Angin yang sepoi membelai wajahku yang rona merah jambu. Malu juga rindu. Adakah ia tahu?

Duhai.
Apa gerangan dalam hati. Namanya saja yang berkumandang. Tapi belum selesai senyum kurakit, seperti layang-layang, ia sudah terbang. Putus ditangan yang abai menggenggam benang.


Jakarta, 6 April 2011
@mentarimeida



Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar