small

Tampilkan postingan dengan label ibunda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibunda. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juni 2014

Sekantong Luka Dari Seorang Ibu

Sekantong Luka Dari Seorang Ibu

Ditulis oleh Irianto Ibrahim


supaya dapat kau ceritakan pada mereka perihal dada yang terhimpit ini:

dada seorang ibu yang tak sempat melihatmu menangis atau sekedar tersedu. sebab baginya kaki-kaki kursi yang diinjakkan pada kuku-kuku kaki suaminya tak pernah benar-benar mengenal rasa sakit: oleh luka maupun oleh kepergian yang dipaksakan. ia ingin mengutuki dirinya jadi batu atau serumpun pohonan bambu tempat putri tanah ini terlahir. ia ingin menjadi jembatan, tempat anak-anaknya menyebrangi cita-cita tanpa tangan kekar sang ayah, namun suara tertahan dari leher tercekik tak sempat memandunya berdoa.

di sebelah sana: di ujung pantai terjauh, ia melihat kapal-kapal mengibarkan layar dan memasang lampu-lampu. ia ingat putrinya yang minta kapal-kapalan. ia rabai riak selat yang tak sempat jadi gelombang: ia urungkan senyumnya. dadanya sesak. dada seorang ibu yang tak sanggup memberi: dada seorang ibu yang menyuruh anak-anaknya mengatup bibir mereka sebelum tersenyum. dada yang menampung sunyi nyanyian mantra para tetua adat.

di punggungnya, ribuan tanda tanya dipikulkan anak-anaknya. tanya yang melarangnya berbaring. tanya yang dijawab dengan tatapan mata berkilat-kilat. semacam perisai para tentara yang disarungkan pada tangan sebelah kiri. ia menutup mukanya. ia sembunyi dari desakan yang menghimpit. nafasnya tersengal, isaknya sesenggukan. lalu dibasuhnya muka merahnya dengan darah suaminya. darah yang dicecerkan dua belas kendi jampi-jampi. darah dari lipatan perih dan airmata yang sekarang menyerah. darah yang di kemudian hari akan ia larung ke laut banda. laut yang akan menenggelamkan suaranya.

bahkan mungkin, bila kau betah menyimak perih: mendefenisikan penistaan. ia seorang ibu yang tak dibolehkan mengucap tahlil saat pemakaman suaminya. yang meronta dan menangis, sambil mengintip dari kangkangan kaki kekar penggali kubur tanpa rasa iba di wajah mereka. ia bicara pada tanah yang tak bisa mendengar suaranya sendiri. ia inginkan pelukan seorang suami. pelukan terakhir yang ingin ia bingkai dengan pelepah pisang atau patahan ranting pohon jarak dari kuburan itu. ia, seorang ibu yang hanya memiliki sebatang pinsil untuk sketsa keluarga, dengan wajah sang suami yang sengaja akan disamarkan. satu hari nanti, bila mungkin kau bisa bercerita pada seorang lain, jangan bilang ia tak sempat meneteskan embun untuk bunga-bunga di halaman rumahnya. sebab seusai sholat subuh, saat para nelayan telah kembali ke dada istri-istri mereka, ia masih khusyu menciumi sobekan kafan yang tak sempat ia balut pada tubuh suaminya.


Kendari, 2009

Rabu, 26 Februari 2014

DALAM RINDUMU, IBU

DALAM RINDUMU, IBU
Titin Sulistyorini

ibu,
jika rindu itu aku
engkaulah muara cinta...

jika khilaf itu aku,
engkaulah samudra maaf..

adamu tak terwakilkan,
tiadamu tak tergantikan...

dalam untaian fatihah,
rinduku tumpah

22 desember 2012


Sumber : kumpulankaryapuisi.blogspot.com

Rabu, 19 Juni 2013

Puisi Rindu untuk Ibu

Puisi Rindu untuk Ibu

Bunda
kemana lagi aku bersandar
bermanja-manja
di antara musim basah ini
aku hanya mendengar langkahmu
di antara gerimis sore
kala dulu
aku mencabut ubanmu
dan menghitungnya
bersamaan
mengajarkanku berhitung

Aku sedih
jika nanti musim kering
ubanmu sembrautan
merasa tua
lalu malu menolehku
karena di antara gerimis sore itu
kau selalu bertanya
“aku masih mudakan nak?”
jawabku senyum

Aku tak tega
melihatmu sedih meratapi ketuaan
yang di jarah waktu
tunggu aku dipersimpangan
tempat perpisahan kita dulu
akhir musim basah ini
aku akan memanen ubanmu 

-Ferdinaen Saragih (2009: Bandung).-


gambar: jalanpanjang.web.id

Selasa, 01 Februari 2011

Kau Di Bumimu

Meskipun Kau akan berjalan di bumimu sendiri
Dan bergerak sesuai dengan waktu mu sendiri
Matahari yang sama akan terbit untukmu
Seperti ia terbit untukku…

Dan Musim yang sama akan melewati hidupmu
Saat mereka melewai hidupku
Ku tahu, kita akan selalu berbeda…
Tapi…Mungkinkah juga akan selalu sama..

Ini adalah usahaku
Memberi untukmu sebuah pelajaran dalam hidupku
Pelajaran ini tidak bermaksud
Untuk memaksa dirimu memaksa menerima perasaan ini

Kebahagianku yang terbesar
Adalah…
Melihat kau berjalan dalam duniamu Sendiri
Melihat senyummu dengan caraku sendiri
Melihat dirimu bahagia dengan caramu
Melihat senyummu dengan bahagiamu

Namun…
Waktu akan menyingkap kebenaran
Dan kebenaran ini…
Lebih besar daripada kita berdua

Kalau aku dapat menyuarakanya
Dengan cara yang membolehkanku
Berjalan disisimu selama hari-harimu
Maka aku akan tulus mencintai
Sampai sisa umur yang kumiliki
Dan pasti tak akan terbagi untuk mu seorang kucintai

Depok 17 July 2007, 21:00 Pm
Original By Erwin Arianto

Senin, 11 Oktober 2010

Bunda Ku sayang

Senyuman tulus murni
Selalu menyinari nurani
Memberi cinta sejati
Kepada kami sang buah hati

Cinta kasihmu sepanjang hari
Tak mungkin terganti
Pribadi ikhlas melayani
Memberi kesejukan hati

Seperti matahari
Terus menyinari sepanjang hari
Pengorbanan yang tidak terperi
Hanya untuk sang buah hati

Bunda ku sayang
Cintamu bagai bintang
Membuat gelap ku jadi terang
Kau beri kasih tak terbilang

Bunda ku sayang
Kau berjuang tanpa lelah
Membimbing ku tentang arah
Peluk hangat saat ku datang

Bunda ku sayang
Sembah bakti ku
Ku tujukan kepadamu
Karena kau lah yang tersayang

Cimanggis-Depok 26 Agustus 2007 22:08
Erwin Arianto