small

Tampilkan postingan dengan label rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rindu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juni 2014

Masa Lalu

Masa Lalu
Ditulis oleh Akbar Kasmiati


Dia hanya anak haram yang bersembunyi dalam rahim waktu
sayatannya masih meninggalkan luka
*
Dia hanya iblis dari teks kaku yang tuli dan bisu
petuahnya membawa bencana
*
Dia hanya ingin mengukur hingga sejauh mana
engkau telah meninggalkan perih yang berjejak darah dan air mata




Rindu
Ditulis oleh Akbar Kasmiati


Kusulam kenangan tentangmu
lalu kukenakan untuk menghalau
hawa sepi selepas engkau pergi
*
Sesekali kuteguk asa akan hadirmu
yang entah mengapa
hingga kini masih hangat
*
Kuhirup jejak aroma tubuhmu di udara
hingga menuntunku menatap kembali
seutas senyummu pada sebuah pigura
*
Komposisi saigon reunion Kitaro dari radio
memantik ingatanku tentang seekor gagak
bertengger di tiang listrik yang berlatar senja berkabut
sedang melantunkan sekuntum mawar yang gugur
*
Ibu, akan kurawat ini rindu
meski namamu telah terukirpada sebongkah nisan


Sumber: horisononline.or.id

Rabu, 02 April 2014

SAJAKMU MENGASAH RINDU

SAJAKMU MENGASAH RINDU
:Imam Jazuli Larat
* Ebed JA

Kenalkan aku dengan sajakmu
Sebelum langit kembali membiru
Sebab ada rindu yang tak dapat kubunuh
Dalam puisimu

Setelah ku kenal dengan sajakmu
Huruf yang kau asa
Dari rasa dan kisah
Menjemput setitik embun
Dalam tubuh kemarau yang setia menunggu hujan

Annuqayah, 11 09 2012


Sumber : karyapuisi.com

Rabu, 26 Februari 2014

DALAM RINDUMU, IBU

DALAM RINDUMU, IBU
Titin Sulistyorini

ibu,
jika rindu itu aku
engkaulah muara cinta...

jika khilaf itu aku,
engkaulah samudra maaf..

adamu tak terwakilkan,
tiadamu tak tergantikan...

dalam untaian fatihah,
rinduku tumpah

22 desember 2012


Sumber : kumpulankaryapuisi.blogspot.com

Rabu, 07 Agustus 2013

Rindu

Puisi Rindu Romantis
:De & Di

Barang kali rindu memang tak mudah
Bersama cinta yang dikekang bermil-mil
Lenyap sudah pagi hariku yang cerah
Malam-malamku dilahap gelisah yang garang

Pecahan rindu telah meluber
Mengotori pembuluh otak
Jantung hati berdetak-detak
Tulang sendi melemah

Mencintaimu dalam kerinduan
Adalah kematian perlahan
Cinta yang tak bisa kutiadakan
Juga rindu yang tak bisa kuredam

Berkunjunglah manisku
Jika ada waktu
Supaya cinta kita tak selamanya
Bersanding dengan kerinduan, 

Ferdinaen 2013.

Rabu, 19 Juni 2013

Puisi Rindu untuk Ibu

Puisi Rindu untuk Ibu

Bunda
kemana lagi aku bersandar
bermanja-manja
di antara musim basah ini
aku hanya mendengar langkahmu
di antara gerimis sore
kala dulu
aku mencabut ubanmu
dan menghitungnya
bersamaan
mengajarkanku berhitung

Aku sedih
jika nanti musim kering
ubanmu sembrautan
merasa tua
lalu malu menolehku
karena di antara gerimis sore itu
kau selalu bertanya
“aku masih mudakan nak?”
jawabku senyum

Aku tak tega
melihatmu sedih meratapi ketuaan
yang di jarah waktu
tunggu aku dipersimpangan
tempat perpisahan kita dulu
akhir musim basah ini
aku akan memanen ubanmu 

-Ferdinaen Saragih (2009: Bandung).-


gambar: jalanpanjang.web.id

Sabtu, 04 Mei 2013

Kukubur Kenangan

gambar: fos-community.com


Kukubur Kenangan
ada lubang yang kugali
untuk kuburmu
pada suatu pagi yang benderang
dan hangat. tapi getir hatiku
ku berlari ke belakang
masa silam
mengumpulkan segala kenangan
tentangmu

pertemuan dalam ruang
di sebuah persimpangan maya
ketika hatimu puing
dan tak tahu ingin kemana
ketika namaku disebut
yang ternyata pernah juga
kau berikan untuknya
lalu segala cerita juga tawa
kekesalan malam-malam kita
juga gelak sebab kelakar mesra

untuk apa kuletakkan lagi semuanya
dalam kotak kaca
yang selalu kupandangi ketika
rindu hinggap di atas genting

hujan telah menciptakan sungai
mengalir deras di pipiku
peti kayu telah kusiapkan
yang akan membusuk seiring waktu
melebur pada ragamu bersamaan
kuletakkan segala kenangan di dalamnya

kuburmu siap, sayang
telah kugali, tanganku sendiri
kenangan akanmu
kulupakan
lelaplah kau bersama rahasia
yang kau buat hanya untuknya



Jakarta, 12 Mei, 2011
@mentarimeida




Kuhapus Jejakmu

kuhapus jejakmu dalam malam
tanpa perlu ada lagi yang kita simpan dalam ingatan
kau pekat
jauhlah jauh
merayap pada dinding
kelam
sementara jam henti berdetik


Jakarta, 10 Mei, 2011
@mentarimeida



Nama Pada Batu Nisan

kau hanya nama pada batu nisan
yang kadang kuziarahi,
kutangisi kepergiaannya

kau hanya nama pada batu nisan
diam dan dingin
meski kuasini dengan hujan
airmata

kau hanya nama pada batu nisan
tempat terkubur segala memori
makam sakit hati


Jakarta, 3 Mei 2011
@mentarimeida




Sebuah Perjalanan

apa yang kau ingat di belakang
setelah jejakmu satu-satu menghilang
dalam sebuah perjalanan
tubuh yang lunglai atau jiwa
yang berbahagia

sementara kesunyian terus begini
apa lagi yang kau mau
semoga jalan tak sesat
dan kau masih ingat pulang



Jakarta, 29 April, 2011
@mentarimeida




Rindu

Pagi, Tuhanku pencipta segala rasa, juga rindu. Semalaman seharian rasa melayang pada sang petualang. Apa kabarnya, wahai Tuhan Yang Maha Tahu? Adakah aku yang pertama di pelupuk matanya pagi ini? Atau ia terlelap masih. Sehingga selamat pagi yang biasa luput.

Manis madu suaranya malam itu. Angin yang sepoi membelai wajahku yang rona merah jambu. Malu juga rindu. Adakah ia tahu?

Duhai.
Apa gerangan dalam hati. Namanya saja yang berkumandang. Tapi belum selesai senyum kurakit, seperti layang-layang, ia sudah terbang. Putus ditangan yang abai menggenggam benang.


Jakarta, 6 April 2011
@mentarimeida



Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Rabu, 01 Mei 2013

Jemputan Yang Datang Terlambat

gambar: papapz.com

(1) Jemputan Yang Datang Terlambat


semisalnya, kau tidak datang terlambat malam itu, mungkin kita menggenapi sabit jadi purnama. sehingga jalanan kita benderang sampai di tujuan.

malam itu hujan tak turun, tapi aku tak mungkin menunggu jemputan yang datang terlalu lama. hingga sampai ada yang datang menawarkan tumpangan, dan aku terlalu letih berdiri sendiri ini, ingin bersandar di tempat yang nyaman.

nanti ketika pagi datang dan kau sadari aku tak di sana lagi, jangan kau katakan dan tanyakan;
mengapa aku meninggalkan

Thursday, August 23, 2012
@mentarimeida 


(2) Barangkali

ada kalanya aku ingin buta
agar tak perlu membaca kata
dalam puisi atau surat cintamu
untuk pelacur jalanan

barangkali aku juga ingin
tuli
agar gema namanya dalam rumah kita
lenyap selamanya

atau mati saja
agar usai semuanya



Jakarta, 14 April, 2012
@mentarimeida 


(3) Kereta

sakit akan ingatan-ingatan masa lalumu
adalah kereta di peron stasiun.
pergi lalu kembali.
lagi dan lagi.

dan aku ialah bangku tunggu
di peron itu.
selalu di situ, menunggu
meski berdebu dan selalu ditinggalkan.



Jakarta, 14 April, 2012
@mentarimeida 


(4) Jatuh Cinta Sekali Lagi

apa kita perlu jatuh cinta sekali lagi?
untuk jatuh tanpa ragu, seperti rintik hujan.
jatuh tanpa penuh tanda tanya.

perlukah aku jatuh cinta lagi?
pada tubuhmu, belantara rahasia.
pada jalan berlubang, tanpa lampu jalan


Jakarta, 19 Maret 2012
@mentarimeida 


(5) Kuutus Rindu
kuutus rindu untuk menjemput matamu
biar kumiliki purnama untuk malam ini
kuutus rindu menjelma ombak
agar perahumu segera pulang ke dermaga

rintik hujan mengetuk jendela
mengabarkan kisah resah



Jakarta, 24 Februari, 2012
@mentarimeida 


Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Rabu, 20 Juli 2011

Tell Me, How To Deal A Broken Heart...



Aku merindumu seperti alunan lagu. 
Yang dentuman dan baitnya nada berima. 
Sama dengan detak jantungku

Aku merindumu dengan inginku. 
Dengan letihku. 
Dengan sedihku. 
Dan kamu, akan menghilangkan semua itu.

Aku merindumu seperti candu. 
Yang kau bakar pelan-pelan. 
Tolong! Jangan biarkan ku mati perlahan.

Aku merindumu dengan sombongku. 
Dengan angkuhku. 
Walaupun kau ada dihadapanku, aku tak akan mengaku!

Aku merindumu dalam marah. 
Setelah pendar emosi yang gerah. 
Aku akan bakar semua pilar hatimu yang goyah.

Aku merindumu dalam diam. 
Kusampaikan dengan bisik halus pada malam. 
Berharap kau mengerti dan paham.

By : Yessy Muchtar

Kamis, 17 Maret 2011

Rindu


Aku tidak mengingkari kebesaran Dia ketika melemahkan hatiku.
Pun ketika aku tak sanggup bicara,
betapa aku merindu salah satu mahlukNya yang fana.
sungguh,....
rasa rindu yang menggelisahkan,
tlah menjadikan langit berjelaga di mataku...
by : Anonim

Sabtu, 15 Januari 2011

Mungkin aku merindumu

Sebuah pertanyaan selalu menyeruak di hati
Ketika dada masih bergetar
Ketika Sebersit lamunan tentang mu datang
mengapa masih ada bayangan indah waktu lalu

Mungkin aku merindumu
Merindu indah bola matamu
Merindu rambut itu yang jatuh bergerai dikeningmu
merindu cerita-ceritamu tentang kita dan cinta

Oh, Mengapa masih terus ada
mengapa tak pernah sirna
Semua makin membuat ku terlena
dalam buaian impian semata

mengapa mesti ada butiran air mata
Saat namamu kembali hadir
saat kueja namamu dalam suara tak terdengar
Walau ku sadar kita tak akan pernah bersatu

Tidakkah waktu bisa membantu melupa
Ataukah aku harus terus terjaga dalam mimpi lalu
Biar waktu itu menjadi sebuah kenangan semata
Biar kucumbui cinta dan indahmu dalam sebuah cerita

Depok, 6 April 2009
erwin Arianto

Kamis, 04 November 2010

Rinduku pada malam itu..

Rindu kah kamu pada bulan?
Rindu kah kamu pada sinar yang terangi malam?
Rindu kah kamu bersama bintang?
Rindu kah kamu bersama pelita penerang malam?

Aq rindu..
Aq rindu pada malam yang hadirkan bulan..
Aq rindu pada malam yang gelapnya diterangi sang purnama..
Aq rindu pada malam yang bertabur bintang..
Aq rindu pada malam yang langit kelamnya dihiasi kemewahan jutaan bintang..

Aq selalu merindukan hadirnya malam itu..



by: "icut febby"

+Wednesday, July 15, 2009+

Minggu, 26 September 2010

Mungkin aku merindumu

Sebuah pertanyaan selalu menyeruak di hati
Ketika dada masih bergetar
Ketika Sebersit lamunan tentang mu datang
mengapa masih ada bayangan indah waktu lalu

Mungkin aku merindumu
Merindu indah bola matamu
Merindu rambut itu yang jatuh bergerai dikeningmu
merindu cerita-ceritamu tentang kita dan cinta

Oh, Mengapa masih terus ada
mengapa tak pernah sirna
Semua makin membuat ku terlena
dalam buaian impian semata

mengapa mesti ada butiran air mata
Saat namamu kembali hadir
saat kueja namamu dalam suara tak terdengar
Walau ku sadar kita tak akan pernah bersatu

Tidakkah waktu bisa membantu melupa
Ataukah aku harus terus terjaga dalam mimpi lalu
Biar waktu itu menjadi sebuah kenangan semata
Biar kucumbui cinta dan indahmu dalam sebuah cerita

Depok, 6 April 2009
erwin Arianto