small

Tampilkan postingan dengan label Ferdinaen Saragih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ferdinaen Saragih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2013

Patah Hati

Puisi Cinta Patah Hati

Kau telah menciptakan kesesakan
Hingga menjelma kegalauan yang akut

Kau ciptakan ketidakjelasan
Pernyataan-pernyataan yang menggores hati
Yang lukanya semakin menganga

Pergilah dan jangan pernah kembali
Hatiku tak akan kembali pada luka masa lalu
Karena aku tak akan mengulang kenangan
Dalam percintaan yang murahan

Dalam patah hati yang galau
Cinta telah menjadi kenangan
Menyisakan patah hati yang dalam

Semoga kegalauan ini tak berlarut
Berbenah sampai hati kembali
Pada kemurnian di masa lalu, 

Ferdinaen 2013.

Rabu, 07 Agustus 2013

Rindu

Puisi Rindu Romantis
:De & Di

Barang kali rindu memang tak mudah
Bersama cinta yang dikekang bermil-mil
Lenyap sudah pagi hariku yang cerah
Malam-malamku dilahap gelisah yang garang

Pecahan rindu telah meluber
Mengotori pembuluh otak
Jantung hati berdetak-detak
Tulang sendi melemah

Mencintaimu dalam kerinduan
Adalah kematian perlahan
Cinta yang tak bisa kutiadakan
Juga rindu yang tak bisa kuredam

Berkunjunglah manisku
Jika ada waktu
Supaya cinta kita tak selamanya
Bersanding dengan kerinduan, 

Ferdinaen 2013.

Rabu, 31 Juli 2013

Kenang Kenangan



ketika dunia mengingatkan kenangan
pohon yang bergoyang di taman
kerikil yang setia di jalanan
akan mengembalikan ingatan

yah....
kita begitu mesra dimasa lalu
kita tanamkan kisah di setiap jejak
yang kita yakini berbuah kebersamaan

apa yang kita tanamkan di masa silam
kini hanya berbuah kerinduan
yang entah pada siapa
akhirnya kita tanamkan kesetiaan 


Ferdinaen Saragih (2011: Bandung).

Jejak Bulan


aku telah kehilangan jejak bulan
keasikan menyusuri rimba di harum tubuhmu
kaupun tak mengingatkanku untuk lekas pulang
menyulam reruntuhan malam
yang berulang kali kita porak-porandakan
apakah kau tak inginkan aku pulang?
meninggalkan kegelapan malam
yang selalu kita ciptakan di sini
ah, kenapa kau tak mengingatkanku,
akankah selamanya samar?
sedangkan bulanku mampu menerangiku
celaka, jika kupaksa bergegas selepas ini
setibaku sudah pasti pagi, bulankupun tak ada lagi 

Ferdinaen Saragih (2009: Bandung).

Rabu, 24 Juli 2013

Melepas Kenangan



bukankah kita telah menobatkanya
menjadi sebuah kenangan
lalu melepasnya dengan lapang
pada waktu yang sulit
beradu pada sebuah senja
ditelan malam
menjadikannya tiada

tak perlu ada duka
kita relakan saja
pada sebuah keiklasan
kenangan hanyalah kenangan
yang tak mungkin terulang

kita ucapkan saja
selamat tinggal
dan selamat jalan
semoga saja kabut
yang menjadikannya kenangan
tak terulang di masa mendatang 

Ferdinaen Saragih (2011: Bandung).

Rabu, 17 Juli 2013

Doa Pagi

kusimpan Tuhan dalam hati
dalam puisi semoga bisa abadi
kulafalkan doa setiap pagi
disaat embun dan mentari
masih khusuk dalam sepi

semoga saja tak ada terlewat hari
sebuah rindu dalam diri

aku ingin memelukmu pagi ini
tapi Tuhan, entah sedang pergi
atau asyik menyibukkan diri
hal itu tidak terlalu nyalang kupahami
dalam puisi ini adalah kata hati
dalam pencarian kesana-kemari

Semoga Tuhan berkenan di hari
menerima persembahan puisi
di saat embun dan mentari
masih khusuk dalam sepi 

Ferdinaen Saragih (2011: Bandung).

Rabu, 10 Juli 2013

Mengejar Mimpi

“siapa yang kau temui di balik belantara ini?”
bisik daun
“mimpi”
ucapku

bunda telah melahirkanku penuh mimpi
jadi aku harus menemuinya
detik ini juga
sebap hari mudaku
akan pergi
semasa lagi 

Ferdinaen Saragih (2009: Ruang Karya). -

Rabu, 03 Juli 2013

Sakau Gengsi

Sakau Gengsi

telah kujelajahi antara pulau-pulau
di hotelhotel, restoran
tak ada kutemukan negriku
hilang setelah melewati perkampungan 
yang tak terjamah kemajuan

ini bukan negriku
aku telah melewati perbatasan
namun kenapa orangorangnya sama saja
persis sepertiku
tak berambut pirang seperti orang asing

di situ tertulis flower hotel
di sana restouran 
dengan open closenya
ternyata bangsaku di jajah lagi
oleh sakau gengsi yang parah 

-Ferdinaen Saragih (2009: Bandung).-

Rabu, 26 Juni 2013

Pemimpin yang Lupa Diri



Gedung-gedung megah dan kursi empuk
Kau hinggapi setiap hari
Terasa nyaman olehmu, bukan?
Makan dari keringat rakyat, jerit payahnya

Kau lupa, atau pura-pura lupa
Seribu janji yang kau sorakkan
Kau bisa duduk dikursi itu, Karena siapa?
Rakyat- rakyat yang kau bodohi

Tidak ada hati nurani, lalu lupa diri
Membebani rakyat kecil
Sadarlah, apa kamu lupa dunia akhirat?
Kelak membakarmu oleh api Neraka 


by: Ferdinaen Saragih (2008: Bandung).

Rabu, 19 Juni 2013

Puisi Rindu untuk Ibu

Puisi Rindu untuk Ibu

Bunda
kemana lagi aku bersandar
bermanja-manja
di antara musim basah ini
aku hanya mendengar langkahmu
di antara gerimis sore
kala dulu
aku mencabut ubanmu
dan menghitungnya
bersamaan
mengajarkanku berhitung

Aku sedih
jika nanti musim kering
ubanmu sembrautan
merasa tua
lalu malu menolehku
karena di antara gerimis sore itu
kau selalu bertanya
“aku masih mudakan nak?”
jawabku senyum

Aku tak tega
melihatmu sedih meratapi ketuaan
yang di jarah waktu
tunggu aku dipersimpangan
tempat perpisahan kita dulu
akhir musim basah ini
aku akan memanen ubanmu 

-Ferdinaen Saragih (2009: Bandung).-


gambar: jalanpanjang.web.id

Kamis, 23 Mei 2013

Sakit Hati

Puisi Galau Sakit Hati

Pada Tuhan kepertanyakan hati
Pada cinta yang tak mau memahami
Biarlah Tuhan cabut hati
Jika memang tidak pernah damai di hati

Biarlah segala kenangan mati
Daripada menusuk-nusuk seperti duri
Biarlah hati kembali dini hari
Tanpa cinta melebihi diri sendiri

Nyeri hati sudah berulang kali terjadi
Jawabanmu masih sama “I am sorry”
Kemarin kau ucapkan I am sorry
Besok lusa kau ulangi lagi

Tiada hari tanpa kau buat sakit hati
Tiada hari tanpa penyesalan diri
Hanya saja hati tak mudah pergi
Meninggalkanmu seorang diri
Karena hati dianugrahi cinta sejati

Namun malam ini
Kupersilahkan Tuhan cabut saja hati
Biar tak lagi sakit hati
Biarlah sepi yang menemani, 

Ferdinaen 2013.

Rabu, 15 Mei 2013

Menunggu esok




Lama kemarau itu gentayangan
Di antara kelopak hati yang risau
Menanti kabut awan
Yang sekian lama terpanggang

Siapakah sosok
Yang membukakan mata hati
Hujan telah menggebu-gebu
Daun telah mengepak-ngepak

Tapi sayang daun dan hujan
Tidak sempat berkenalan
Hingga daun kembali menunggu esok
Menunggu hujan untuk berjabat tangan 

(Ferdinaen - 2009.)

Gambar: redcheekinda.wordpress.com