small

Tampilkan postingan dengan label kau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kau. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 April 2014

Kuharap Engkau akan Mengerti

Kuharap Engkau akan Mengerti
Muhammad Zakaria

Bagaimana lagi ku harus mengungkapkan
Bila engkau selalu tidak percaya
Bagaimana lagi ku menjelaskan
Bila engkau selalu menganganggap canda belaka

Kuharapkan engkau dapat mengerti
Kuharapkan engkau dapat memahami
Kuharap engkau dapat merasakan
Betapa pedihnya hati ini engkau jadikan

Aku begitu serius
Namun, engkau meragukan itu
Kutanya mengapa?
Engkau malah terdiam tanpa kata

Semoga engkau kan mengerti
Arti dari rasaku ini
Kuharap engkau dapat menyadari
Kalau aku kan selalu ada di sini bersamamu.

19-Jun-2012
www.kabarindonesia.com


Sumber : karyapuisi.com

Rabu, 01 Januari 2014

Semuanya Telah Menetes Untukmu Kemarin

Semuanya Telah Menetes Untukmu Kemarin
Freddy Santoso

jariku rapuh karna lelah menghitung bintang dilangit..
Mataku buta karna tak berhenti pandangi indah rembulan..
Disana seperti telah terukir manis wajahmu..
Tak berkedip mataku menatap mata yang berbalut lentik itu,
disana kullihat sebuah takdir...
Takdir yang hingga kini masih membayangi harapan namun menyayat hati,
takdir yang takkan lekang termakan oleh waktu,
takkan layu oleh terik matahari,
takkan pernah padam seperti bintang,
dan takkan pernah pupus walau raga telah ditelan bumi..

Tapi,
takdir itu telah kalah oleh kenyataan..
Kenyataan yang memaksa takdir itu takkan pernah terwujud sekalipun 1000 malaikat turut memohon..
Kenyatan yang membuat takdir itu kini menjadi mimpi buruk dan terus menerus menyakiti...

Dalam sadar, kenangan yang menghujam jantungku,
dalam lelap, rangkaian mimpi yang mengiris iris perasaanku...

Aku tak menangis,
bukan karna aku kuat untuk tegar dan tak bersedih..
Tapi karna sudah tak ada lagi sisa airmata yang bisa mengalir...
Semuanya telah menetes untukmu kemarin....

14 Juli 2012


Sumber : kumpulankaryapuisi.blogspot.com

Rabu, 23 Oktober 2013

Aku Mencintai Kejauhan | Adi Nugroho *****

1. Aku Mencintai Kejauhan (1)

Karena kita jauh. Semua menjadi serba riuh. Mudah merindu pada waktu-waktu yang terbentang dari subuh ke subuh. Kalau boleh jujur, aku pun mencintaimu karena kita jauh. Namun, mengajarkanku bagaimana dekat denganmu. Jauh dari tatapan mata, membimbingku pada kemuliaan padamu. saat kau dihadapku jauh dari ekspresi jiwa, aku mepersiapkan segala rupa kebahagiaan untukmu. bahkan jauh dari sekadar bertegur sapa lewat awan biru, menuntunku untuk melantunkan keberkahan jiwa kala bersapa padamu. Dan jauhlah yang mengajariku makna cinta. Agar aku bisa mencinta secara perlahan, bermula ungkapan kata-kata yang terjalin dari goresan makna. Aku mulai tahu namamu, siapa dirimu. Semua serba indah, aku mencintaimu pada pandangan pertama dan pandangan selanjutnya sampai surga membersamai kita. Karena jauhlah, aku tahu indahnya kedekatan kita.


2. Lilin Kecil

Tanganku masih menengadah dibawahmu. Untuk menampung bagian tubuhmu yang lumer terbakar api. Sampai kapan kau akan tetap begitu. Dirimu begitu banyak didekati,tak kurang seribu kunang bermain di sampingmu. Juga tak hilang tiap pujangga menyebut namamu. Tapi, kenapa? Kau tega menghabiskan tubuhmu untuk menebar cinta. Kau bakar dirimu untuk menyulut senja. Namun, diriku tetap menjagamu. Menampung sisa tubuhmu dengan sedikit sumbu. Kau tetap lilin kecilku. Meski kau tak seperti dulu



Tetes embun matamukah itu
Yang menyeka gurat wajah yang siluet
dari tampiasnya awan di pelupuk alis
sebab bola matamu telah menggelinding
ke ufuk hatiku

siapa lagi? Itu pasti kamu

lautan senyummukah itu
yang membasahi tidur malamku

itu pasti kamu

yang menuliskan sajak dikulit dadaku
dan berakhir diselaput jantungku


4. NAMAMU
Telah kupahat namamu
dibatu itu,
dengan air mata kesenyapan.
kau pergi membawa debu.
Hinga tersisa batu.
Bertanggal hari kepergiamu



5. Bertukar Senja
Hari ini kita bertukar senja 
Kau bungkus dengan rona
Dan aku membingkisnya lewat aurora
Lalu kita membisiknya sebagai cinta

Liang-liang jurang sajak di ruang tunggu
Menyelip kerlip, kau memanja lagu
Berayun-ayun di akar lentik mataku
Aku suka menyebutnya sebagai rindu
Itu terjadi di malam yang demam
Kala doaku menderas menyungai di garis wajahku

Lalu menguap namamu
Dan membuka suaramu dilemari hati

Kin senja telah bertukar, kau peluk jnatungku
Dan kukecup aliran darahmu
Kini malam, sudahlah waktu tidur.
Biar esok kita bertukar fajar

Dilekung air laut aku temukan
Cinta itu engkau lewat deras arus buih
Rindu itu engkau, pada jejak langkah siang dan malam
Aku pun engkau, di detik detak jantungku


Sumber: ijonkmuhammad.tumblr.com



Jumat, 24 Mei 2013

Bertahap ku ikhlaskan kau pergi

Terkoyak pita suaraku..
Jerit hatiku hanya sebatas lirih..
Dalam diam aku menangis..
Menahan luka hati yang tertoreh..

Merangkak ku rapikan kembali serpihan hati..
Perlahan ku keringkan dinding hatiku yang tersiram air mata..
Ku kumpulkan daun harapku yang berguguran..
Ku tata rapi menjadikannya rangkaian dalam bingkai kenangan..

Kini ku mampu berdiri..
Melangkah pasti meninggalkan mimpiku yang telah mati..
Bertahap ku ikhlaskan kau pergi..
Tak ingin lagi menanam angan mengharap kau kembali..

Sumber: CORETAN HATI PUJANGGA

HUJAN UNTUK MU

rintik hujan menitikkan air mata, kau lihat?
tidak. kau tak lihat sebab hujan enggan berbagi kesedihan
semenjak ia tahu ada kesedihan lain di balik dinding itu,
dinding dingin yang mampu menyembunyikan tubuhmu tapi tidak panas airmatamu.
hujan ingin bercerita tentang sebuah kisah yang mampu membuatmu tertawa
tapi ternyata telingamu telah berubah jadi pelupuk mata
yang menangis yang lebih dicintai anak-anak air mata.
hujan memiliki tangan, kau tahu?
dia ingin merengkuh pundakmu yang berat
menyeka airmatamu yang lara
setelahnya mendekapmu hingga kau terlelap.
hujan akan menjagamu sepanjang malam
memunguti kesedihan-kesedihan di matamu
lalu memindahkan ke matanya, sungguh ia rela.
menjelang pagi ia akan pergi dan meninggalkan pelangi
untuk kau pandangi. dari ketinggian ia akan tersenyum memandangi wajahmu berseri-seri
meski ia menyimpan kesedihanmu yang harus ia rintikkan kembali

Tamira

Rabu, 08 Mei 2013

Kamu Kenapa

gambar: otherpriceless.blogspot.com


Kamu Kenapa

kamu
kenapa?
mendadak dingin, mendadak gigil
tak seperti biasa

kamu
kenapa?
tak lagi mesra, tak lagi manja
tak terasa

kamu
kenapa?
mendadak angkuh, mendadak diam
tak lagi menyapa

kamu
kenapa?
tak lagi hangat, tak lagi bersahabat
jahat

kamu...
kenapa berubah?

-Mentari Meida-




Siang dan Malam

malam tak pernah menunggu pagi datang
ia ikhlas saja melaksanakan tugasnya
tak meminta ada bintang atau rembulan
malam tetap setia
hingga fajar lahir di timur
maka usai lah baktinya.

siang tak pernah menunggu petang
ia tetap terang
meski berawan meski terik
saat senja datang ia bisa pulang dengan tenang

jika suatu pagi atau petang mereka tak pernah saling menjumpai lagi
(mungkin) ketika itu Tuhan sudah jengah dengan manusia


-Mentari Meida-





240710
Kita jangan bertatap muka ya.
Aku takut.
Kita buat janji saja.
Tunggu di persimpangan, di ujung jalan itu.

Kalau kau lebih dulu menemui punggungku, lihat saja, jangan memanggil.
Begitu juga aku.
ketika aku melihat punggungmu, maka hanya akan kutatap tanpa mendekat.

Kita sudah bertemu.
Kau dan aku tahu, kita ada.


-Mentari Meida-





Mahluk Itu Bernama Sepi


Aku bertanya pada bintang
“Apa itu sepi?”
Bintang menjawab: “Tunggu lah malam pekat, saat kau lihat aku menghilang.”

Aku bertanya pada malam
“Apa itu sepi?”
Malam menjawab: “Tunggu lah pagi hari, saat kau jumpai kabut memudar.”

Aku bertanya pada kabut
“Apa itu sepi?”
Kabut menjawab: “Tunggu lah mentari terbit, saat kau lihat rona merahnya di Timur.”

Aku bertanya pada mentari
“Apa itu sepi?”
Mentari menjawab: “Saat Mentari sendiri, itu lah sepi.”


-Mentari Meida-




Satu
Tuhan, berikan lah cahaya terang pada akhir jalan ini.
semoga langkah kami yang mengarah ke sana ringan dan damai.
langkah aku dan dia.

Tuhan, berikan lah pelangi pada langit-langit gelap.
setelah hujan deras yang menimpa.
membasahi aku dan dia.

Tuhan, nanti di akhir kisah, mungkin, akan ditemui persimpangan.
setelah kami lewati jalan, meski berliku-liku.
Kumohon, sampaikan lah kami di satu tujuan yang sama.


-Mentari Meida-



Lelaki

ada apa dengan lelaki?
iblis kah mereka?
yang mampu menjebak hawa dalam dosa
lalu mereka tertawa bahagia
terkutuklah kalian para kaum adam
aku wanita menyumpahi
atas nama sakit hati dan rasa kecewa
serta berbagai ribu luka

ada apa dengan lelaki
yang hanya ingin bebas dan lepas
yang selalu senang lari dari masalah
kalian yang para pendosa
terkutuklah engkau
wahai para lelaki yang kucinta
biar derita menyelubungimu
tak terhapus dosa
hingga kau menuju neraka!


-Mentari Meida-



Sun & Rain falling in love

Dan, ia selalu bilang…
Pelangi, yang muncul setelah Hujan reda, tak kan ada jika Mentari tak berperan serta membantu Hujan membuatnya. 
Maka wajarlah jika Mentari begitu mencintai Hujan. 
Yang setiap rintik gerimisnya buatkan sinarnya teduh. 
Lalu, bukankah juga sebaliknya.
Ketika Hujan mencintai mentari.
Ketika ia duka dalam mendung. 
Lalu menangis pada gerimis. 
Maka, Mentari bantu ciptakan Pelangi. 
Mentari cintai hujan. 
Karena ia yang paling mengerti dukanya. 
Sedihnya ditemani mendung dan tangisnya disamarkan gerimis. 
Di luar ia memang bersinar. 
Tapi, siapa yang tahu lukanya. 
Hanya Hujan yang paling setia. 
Maka, saat Mentari dan Hujan jatuh cinta
Lihatlah…
Ada Pelangi di langit sana


-Mentari Meida-



Mengapa Aku
Mengapa rumput ingin tetap hijau, meski terik mentari panas membakar. 
Mengapa bunga ingin tetap mekar, meski udara membuatnya layu.
Mengapa bulan ingin tetap bersinar, meski bintang tak menemani.
Mengapa pohon ingin tetap berkembang, meski angin gugurkan daunnya.
Mengapa aku ingin tetap di sini, meski ia perlahan pergi.



-Mentari Meida-



Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Kita Berdua Duduk; Tiba-tiba Kau Bertanya

Kita Berdua Duduk; Tiba-tiba Kau Bertanya
Bunyamin F. Syarifudin

Kita berdua duduk
Tiba-tiba kau bertanya tentang Ia
Aku bilang ada, kau bilang hilang
Aku bilang di nadi, kau bilang tak berdetak

Aku bilang, ”mari kita menghela nafas dulu.”
Kau malah terengah-engah, tak sabaran
Aku bilang, ”mari kita memesan riak air untuk rasa haus kita.”
Kau malah mengeringkan kerongkongan

Aku memesan adzan yang bersembunyi di mushola-mushola
Kau memesan rintik hujan yang mengiris pelangi
Aku memesan malam yang dirindu para Molana
Kau memesan lembayung yang memerah dan bertanduk

Aku makan wafak-wafak pelipur rindu
Kau jalin huruf-huruf menjadi sihir

Kita berdua duduk
Pada sepi yang purba
Aku bilang, “mari kita cari rumah Ia, di Qalbu!”

;kau tertidur lelap

2010
http://www.pikiran-rakyat.com/node/144117?page=1

Minggu, 05 Mei 2013

Cintaku Tak Ingat Pulang

gambar: facebook.com




Cintaku Tak Ingat Pulang


Tak ada lagi yang mengetuk pintu. Tak usah kau tunggu, menanti. Sementara aku bukan sekadar terlambat pulang, tapi lupa jalanan yang biasa dilalui denganmu, yang menderu itu. Resahku begitu tersesat namun sahaja cinta yakin kemana menuju. Tau yang kumau.

Ia hanya tak ingin pulang kerumah dimana kau menunggu gelisah.



Jakarta, 25 February 2011
@mentarimeida




Tamat

Ketika kita tinggal memori,

tak perlu ada lagi penantian tak berbatas waktu yang kau tunggu meski kau bisa, selain ajal. Pintu kututup rapat sudah. Mengintip pun angin tak kuasa. Pengap memang. Tapi hati yang lama terpenjara bernafas lega, akhirnya tak risau dikerubung gema pertanyaan yang tak pernah berujung pada jawab. Lagu mana yang harus diputar, mengantarkan engkau pulang. Aku tak pernah diajarkan, mungkin seharusnya menjadi kebiasaan masa depan, menyiapkan kata perpisahan atau surat untuk dikirimkan. Tak kubuat juga puisi mengiris hati. Sudah cukup semua. Bahkan kita tak perlu kata pengantar. Tamat.


Bekasi, 19 Februari 2011

@mentarimeida




Tamu


ada yang datang (lagi)
mengetuk pintu
menerbitkan riak di perutku
ini rindu

ada yang hadir
di ruang tamu
dalam hatiku
kamu.


Bekasi, 12 Februari 2011

@mentarimeida




Tidak Lelahkah Kau

: Shanti Hapsari


telah kutanyakan padamu
tidak lelahkah kau
menjadi pokok berbunga
yang setia mematung saja
di tepi jalan sepi itu
menanti pengembara yang berjalan
setiap hari di sana
tanpa memandang kembangmu
karena ia lurus saja mencari
matahari yang jelas bersinar
sementara ranting-rantingmu
serupa jari-jari berdoa

meski sudah kau palangi gerbangmu
dan pintumu pun kau kunci
ia menyelinap kedalam mimpimu
lewat lubang galian pencuri*

tidakkah baiknya kau
mempusarai saja mimpi
lalu tetap terjaga
letihlah, sayang,
menjadi rumput yang diam-diam
memandangi punggung langit
cari saja embun
yang membasuh tiap lukamu
setia hingga pagi
atau serangga yang senang hinggap
membuatmu tertawa hingga petang

pada saat mentari terbenam, awan berarak bagai bendera
aku pun mulai merenung:
apa pula makna mencintai seseorang yang di luar raih tanganku ini**



Bekasi, 22 Januari 2011

@mentarimeida




Rendevous - Cintamu di Jogjakarta


Barangkali aku bayi yang baru lahir dari rahim dunia
Masih buta, masih meraba
Jadi, jangan kau tanya tentang cinta

Cintamu yang abadi di Jogjakarta,
Telah tiada
Ini Jakarta!
Jangan kau harap bayang-bayangnya menjelma padaku
Besok pagi ketika mataku menatap cahaya,
lalu kau bilang cinta selamanya

Pertemuan kita sederhana, tiba-tiba
Aku masih mengais mencari susu di payudara ibuku
Bukan kupu-kupu yang rekah dari kepompongnya
Lalu terbang sendiri, tergesa

Mataku baru hendak menatap dunia
Masih hendak berkelana
Jangan kau tawarkan cinta
Membelenggu kakiku yang bahkan baru hendak merangkak

Mengapa kau tak kembali saja
Ke makamnya, mencari jasadnya
Mungkin esok senja mampu kau temukan jiwanya
Yang mencintaimu segenap raga

Pertemuan kita biasa saja
Tidak ada gejala yang mampu menimbulkan cinta
Pulanglah...
Malam sudah tiba
Ini Jakarta
Aku masih ingin terlelap dalam hangat
dekapan dada ibuku



15 Maret 2009

@mentarimeida



Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Jumat, 03 Mei 2013

Di Pantaiku

gambar: kantonglaci.blogspot.com


(1) Di Pantaiku

tak perlu kau mengerti tiap butir pasir di pantaiku
atau coba membaca debur ombak yang mengirimmu

di sana
rebah saja, bersarang
kupeluk kau selamanya



Jakarta, 20 Juni, 2011
@mentarimeida




(2) Seperti Angin

dan kamu tiba-tiba saja menjelma angin sore, menyapa daun-daun tua yang kesepian, menguning dan hampir gugur di pucuk dahan itu. helai-helai daun yang hampir kehilangan percaya, tak berdaya.

seperti juga angin, kau mengantarkan sejuk, hingga aku senang berdansa dalam bola matamu yang serupa kolam. tak habis-habis menggenang, bayangku padamu.

Friday, June 10, 2011@mentarimeida


(3) Kereta

bukan kah kita selalu menunggu di stasiun, menanti kereta yang datang. lalu kau bilang tak mengerti tentang kisah perjalanan kereta yang datang, menjemput sekaligus menjauhi. kita menunggu kereta yang satu tujuan. tapi mungkin saja ditengah perjalanan ada kisah yang harus diputuskan, sehingga sebelum pagi datang lagi kita sudah berbeda arah. entah kau yang turun lebih dahulu di stasiun depan, atau mungkin juga aku.


Wednesday, June 1, 2011
@mentarimeida




(4) Mentari Akhir Mei

kutinggalkan saja biru
perjalanan lalu
di senjasenja yang terbakar
meluruhlah segala tangis
rupamu

biar terbenam jingga
membawa kisah
"esok pagi juga datang lagi," katamu
mengirim burung bernyanyi
percaya saja

menutup cerita
denganmu
semoga berbahagia



Jakarta, 31 Mei, 2011
@mentarimeida




(5) Di Kotamu Semoga Kau Ingat Aku

Kutitipkan cinta di kantung kemejamu. Dekat ke dadamu. Hati. Semoga terus berdegup seiring detak jantungmu. Lalu kau ingat aku. Di kotamu.

Semoga tak luntur katunmu yang biru. Menyerap peluhpeluh perjalanan. Cinta yang kusisipkan itu akan mengerti. Merasai juga aku. Bekal untukmu membahagiakan nanti.




Bekasi, 21 May, 2011
@mentarimeida


Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Rabu, 14 September 2011

Terserah kamu...

Aku ada di sini, kamu ngga ada
Aku cari kamu di sana, tapi kamu ngga adaAku sampai datang ke sana, kamu ngga ada
Aku jauh-jauh ke sana, kamu ngga ada
 
Kamu jauh sih...
Lalu, kapan kita ketemunya?
Maunya aku hari ini juga
Sekarang juga, saat ini juga
 
Siap kah kamu ?
Walau hanya silaturahmi saja?
Syukur-syukur kalau jadi khitbah
Kalau ngga, tidak jadi masalah, bukan?
 
Kamu takut ditolak?
Kamu masih minder?
Kamu masih mikir finansial?
Kamu masih ragu?
 
Pasti segudang alasan yang akan kamu buat
Pasti banyak alasan yang akan kamu beri
Pasti kamu lagi bingung mana alasan yang tepat
 
Terserah kamu saja...
Yang penting aku sudah kasih kamu kesempatan ikhtiar
Moga ALLAH memudahkan langkah ikhtiar & kemantapan hati

Sumber : copaz dari milist sebelah

Senin, 07 Februari 2011

Kau tetap bidadari kecil ku


Sepenggal Kisah Cinta kita
Kini telah hilang di telah sirna ditelan sang surya
Meski pernah ku kecap bahagia dengannya
Tapi kini harus ku telan pahitnya sang duka

Layu sudah semua keindahan cinta
Keceriaan hati telah berpudar karenanya
Kucurahkan air mata ini demi rasa
Tak Dapat terbantahkan semuanya

Biarlah kan tetap kusimpan rasa cintaku untukmu
Biarlah kau tahu hingga kini ku takbisa tikam rinduku
Biarlah Ku tetap menyangimu setulus hatiku
Biarlah Semua hanya menjadi kenangan kalbu

Oh tuhan ku tak kuasa melupakan dirinya
Saat kau bisikan rasa yang ada
Karena terlalu besar asa yang tersisa
Kan selalu kepeluk bayanganmu seperinyata

Pernah mencintaimu seindah cahaya pagi
Pernah Memilikimu telah membuka mata hati
Kau telah menggenggam hatiku
Karena hanya dirimu yang terlukis dalam pigura hatiku
Walau Perih ku rasa, kau tetap bidadari kecil ku.

--
Best Regard
Erwin Arianto,SE

Aku dan Kau yang Sempurna

Aku adalah mentari yang menyapa hari
Kau adalah tetesan embun yang menyejukkan pagi

Aku adalah matahari yang menghiasi cakrawala
Kau adalah warna keemasan yang menyelimutinya

Aku adalah bulan yang menemani malam
Kau adalah bulatan yang membuatnya purnama

Aku adalah hujan yang menyirami bumi
Kau adalah gemercik air yang mengalunkan lagu

Aku adalah pelangi yang mewarnai angkasa
Kau adalah lengkungan warna sprektum cahaya

Aku adalah senja yang mengarak sang surya turun
Kau adalah lembayung yang membatasi cakrawala di ujung laut

Aku adalah bintang kejora yang terkelip diangkasa
Kau adalah sinar yang menyorotkan bias nur

Aku adalah kelopak yang membentuk indahnya bunga
Kau adalah harum yang memekarkan kuntum

Aku adalah peri yang ingin mengapai angkasa
Kau adalah sayap yang menerbangkanku lebih tinggi

Aku adalah jasad yang membentuk tubuh
Kau adalah ruh yang menggerakkan raga

Dalam sejuta makna aku dan kau
Aku adalah manusia yang sangat biasa
Dan kau adalah sosok yang selalu terpikir
Bahwa aku adalah kau yang sempurna,..

--
Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas