small

Tampilkan postingan dengan label Adi Nugroho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adi Nugroho. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Maret 2014

Jarak


Kau dan aku, hanyalah sisasisa perasaan. Dari percakapan bermula hingga akal lupa dimana kita berada. Setelah sekian lama mengalami ilusi, kita mencoba mengerti: memeluk hati cukuplah seperlunya. Masih ada harihari kita bisa dengarkan desah daun basah.
Helaihelai rumput tersipu, hujan bernyanyi sepi, mungkinkah terlalu yakin pada sendiri. Aku ragu, bisakah sejenak saja kita berbeda sapa. Aku takut, rasa kalut mengusik kesendirian kita. Sebab inilah kita yang memilih ilusi, dibanding sendiri sebagai sepi. Sebab aku belum mendefinisikan rindu, maka biarlah tak ada sudut pada percakapan kita. Biarkan begitu saja.
Bilapun aku harus berhenti mencintaimu dalam detik dan detak. Biarlah aku pergi, meninggalkanmu pelangi dan senja. Langit merah mega, kepakkepak malaikat memetik gitar sebagai pengiring pergiku. Sebab pergi itu pasti, anggaplah itu caraku mencintaimu. Mari kita mengenal rindu.
Kau pun beranjak, begitupula aku merangkai jejak. Melepaskan halhal tak masuk akal, seperti selalu ada dan bersama. Seolah sudah cukup kita larut. Kuntumkuntum kesepian yang dulu dipetik, kini mulai tumbuh dan dibiarkan merekah. Kita pun mengenal sepi di antara wewangi perkara hati. Meski telah aku tuliskan di kulit hujan, kesepian adalah sudut terujung dari nestapa. Tapilah hidup tanpa sepipun, kurasakan jua, layaknya luka di tanah surga: tak sempat kurasakan sungai susunya.
Sejak rambutmu terurai melambailambai pergi, menyentuh wajah langit, kesendirian mulai menarinari selimutkan sepi. Aku berjalanjalan dengan dada menyalanyala, bertabuhtabuh mengusir sekawanan merpati. Akhirnya kita pun sudah berjarak. Sebab kita percaya,  sejauh manakah rasa setia terkecuali ada jarak mengepak. Seperti apakah kau menjaga namaku di ruang tanpa diriku.
Dan biarlah jarak mengajarkan cinta. Dengan siapa kita mendapatkan nama. Bukankah dulu begitu kita bisa bersama. Saat tak saling sapa karena jarak, sampai kini kau melekat dihatiku tanpa sekat.
Apapun itu, dari jarak ini aku mulai mengenal rindu. Rasanya yang sendu membuatku penuh rasa ingin menunggu. Meski harus kupahami, rinduku ini, rindu sembilu, seperti layanglayang melayang lepas dari pemiliknya, terhempas angin tak berarah. Entahlah, sampai dimana aku, adakah yang menyentuh benangku, jatuh pada basah tanah, atau malah tersangkut pada rantingranting kering. Tapi itulah rinduku
Aku merindukanmu pada jarakjarak yang tak mudah ditebak, meski harus tersentak pada waktu yang tak berdetak. Semoga kau tak beranjak dari namaku.
Aku mencintaimu diantara jarakjarak yang terselip jejak kita dahulu, walau terhentak tempat yang tak terungkap. Semoga kau masih sediakan rumah untukku di hatimu.

ijonkmuhammad.tumblr.com

Rabu, 19 Februari 2014

Gerimis

terlalu banyak gerimis di mataku, mengalir ke dalam jiwa
tak juga deras, masih juga enggan reda. Memaksa membayangmu
padahal wajahmu adalah setuang siksa dan sesendok surga pada gelas
kehidupanku. Di hatiku terbuka pintu, tertinggal kuncinya pada tanganmu.
Gerimis di hati, membentuk kolam tanpa ikan.

http://ijonkmuhammad.tumblr.com

Rabu, 06 November 2013

Firman hujan | Adi Nugroho ****

1. Firman hujan

Sekiranya  kita simpan hujan
Tak ada jua yang melarang
Pun kusimpan senyummu
Masihkah ada yang berang

Hujan berfirman pada basah tanah angin mendesah

Jatuh cinta adalah ibadah yang sempurna
Disana ada malaikat yang berdoa
dengan rekah senyum Tuhan di kursinya

Hujan pun bersabda
Jatuh rindu itu, sengatan listrik yang menggelikan
Tak peduli sesaknya dada, apalagi senyum yang tak diundang
dengan tangan mendekap, denyut di dada

manalagi yang kau dustakan
maha benar hujan yang mengingatkanku padamu

rintik hujan mengetuk jendela
dan tengoklah drama gemuruh
dapatkah kau lihat manusia berpayung itu?


2. Aku!

Aku, aku bukan Chairil,
Dia yang ingin hidup seribu tahun lagi
Apalagi binatang jalang

Aku, jelas bukan Chairil.
Karena aku
Ingin mencintaimu lebih dari seribu tahun
Melewati batas usia dunia
Tak perlu menerjang
Hanya perlu merindu
Bagian jalan menyayangimu

Aku,
Yang tak menangis saat keluar dari rahim ibu
Tapi mengelu menyebut namamu


3. Pulang

Kecuali pulang, hendak kemanakah dirimu saat merasa ada yang hilang. Selain pulang, kearah manakah aku berhenti bertualang.
Kau dan aku mungkin juga hanyalah pertemuan tak sengaja saat memilih pulang. Biarkan semua berjalan tanpa penghalang. Kita berjalan saling menunjuk alamat pulang. Semoga kelak di antara kita datang menggandeng untuk sebuah rute baru dalam bertualang.
Kemanapun aku beranjak, dimanapun kamu berpijak, juga bagaimanapun kita berjejak, pulang adalah memeluk ingatan.  
Apabila air mata adalah cinta, maka tangisku adalah merindu wajah ibu lewat harihari yang berlalu. Dengan kata lain, tangisku pada dirimu hanyalah melafal sajak ibu menuju dekapanmu. Saat kau dan ibu menyatu dalam dingin, rumah ibu menjadi alamat pulang penuh ilalang kerinduan, rumahmu pun menjadi alamat pulang yang hendak tercatat dalam doa ibu.
Pulang, hanyalah jalan lurus. Membuatku terus menerus menghapus masa lalu. Menggerus kisahkisah rakus yang terserat arus. Aku tak ingin hangus, sebab itu aku kembali pada asal muasal segala ritus.
Pulang, lewati banyak simpang. Mengajarkanku hikmah cinta dari derita berulang. Merapikan kisah usang menjadi cemerlang. Aku ingin semuanya terang, sebab itulah simpang diciptakan. Ketika jalanjalan saling silang, aku memecah karang mencium elang yang terbang. Demikian aku kembali, kemanakah kau berlalu, tetap saja kita akan mengetuk satu pintu.
Aku datang, aku memerlukan pulang, demikianlah aku kembali ketika mulai banyak halang.
Aku datang, aku membayangkan pulang, demikianlah kiranya rindu semakin menggebu

Rabu, 23 Oktober 2013

Aku Mencintai Kejauhan | Adi Nugroho *****

1. Aku Mencintai Kejauhan (1)

Karena kita jauh. Semua menjadi serba riuh. Mudah merindu pada waktu-waktu yang terbentang dari subuh ke subuh. Kalau boleh jujur, aku pun mencintaimu karena kita jauh. Namun, mengajarkanku bagaimana dekat denganmu. Jauh dari tatapan mata, membimbingku pada kemuliaan padamu. saat kau dihadapku jauh dari ekspresi jiwa, aku mepersiapkan segala rupa kebahagiaan untukmu. bahkan jauh dari sekadar bertegur sapa lewat awan biru, menuntunku untuk melantunkan keberkahan jiwa kala bersapa padamu. Dan jauhlah yang mengajariku makna cinta. Agar aku bisa mencinta secara perlahan, bermula ungkapan kata-kata yang terjalin dari goresan makna. Aku mulai tahu namamu, siapa dirimu. Semua serba indah, aku mencintaimu pada pandangan pertama dan pandangan selanjutnya sampai surga membersamai kita. Karena jauhlah, aku tahu indahnya kedekatan kita.


2. Lilin Kecil

Tanganku masih menengadah dibawahmu. Untuk menampung bagian tubuhmu yang lumer terbakar api. Sampai kapan kau akan tetap begitu. Dirimu begitu banyak didekati,tak kurang seribu kunang bermain di sampingmu. Juga tak hilang tiap pujangga menyebut namamu. Tapi, kenapa? Kau tega menghabiskan tubuhmu untuk menebar cinta. Kau bakar dirimu untuk menyulut senja. Namun, diriku tetap menjagamu. Menampung sisa tubuhmu dengan sedikit sumbu. Kau tetap lilin kecilku. Meski kau tak seperti dulu



Tetes embun matamukah itu
Yang menyeka gurat wajah yang siluet
dari tampiasnya awan di pelupuk alis
sebab bola matamu telah menggelinding
ke ufuk hatiku

siapa lagi? Itu pasti kamu

lautan senyummukah itu
yang membasahi tidur malamku

itu pasti kamu

yang menuliskan sajak dikulit dadaku
dan berakhir diselaput jantungku


4. NAMAMU
Telah kupahat namamu
dibatu itu,
dengan air mata kesenyapan.
kau pergi membawa debu.
Hinga tersisa batu.
Bertanggal hari kepergiamu



5. Bertukar Senja
Hari ini kita bertukar senja 
Kau bungkus dengan rona
Dan aku membingkisnya lewat aurora
Lalu kita membisiknya sebagai cinta

Liang-liang jurang sajak di ruang tunggu
Menyelip kerlip, kau memanja lagu
Berayun-ayun di akar lentik mataku
Aku suka menyebutnya sebagai rindu
Itu terjadi di malam yang demam
Kala doaku menderas menyungai di garis wajahku

Lalu menguap namamu
Dan membuka suaramu dilemari hati

Kin senja telah bertukar, kau peluk jnatungku
Dan kukecup aliran darahmu
Kini malam, sudahlah waktu tidur.
Biar esok kita bertukar fajar

Dilekung air laut aku temukan
Cinta itu engkau lewat deras arus buih
Rindu itu engkau, pada jejak langkah siang dan malam
Aku pun engkau, di detik detak jantungku


Sumber: ijonkmuhammad.tumblr.com



Senin, 27 Mei 2013

Kepada Laut | Adi Nugroho

1. Kepada Laut
Adi Nugroho

perahu kecil, jala mungil, burungburung pelikan, senyapsenyap ikan, debur ombak, batu retak, aku dan mata kosong, menunggu: kepada laut.  Aku melamun saja, bertanya pada angin, darimana angan ini, yang ingin dari dingin basah asin laut kecup bunga siput, sejak kau berlayar ke arah yang tak pernah kudengar, tak ada kabar, dan aku terkapar. Kepada laut: Aku berdiri saja, melipir ke dermaga pinggir, aku mencari kerang tak karang, adakah dia melihat jejakmu yang tersapu para pembajak. Kepada laut: aku masih menunggu kebaikan hatimu, sebab arusmu menghanyutku ke pulau rindu. Kepada laut: aku hanyut

Kepada kamu, kepada laut, kepada kita yang kalut. Boleh aku berlaut menjemputmu? mengejar kau, yang membuatku larut di harihari kusut. Biar aku memelukmu lagi, dan merasakan keras debar dada ini. Kerna Debar adalah lagu yang menghantarku pada bisik, jejak, dan merah pipimu.  Seperti ombak dan deburnya, yang cepatnya pergi dan dekat kembali pada ujung jemari kaki. Itulah aku yang teguh, laut akan memperpendek keraguan. Cinta terbaik mestilah tak lama menuju janji mati. Dan kau pun segera tau, pada dada siapa harus bersandar

laut pasang malam larut
entah aku atau bayangku yang terlebih dulu sampai
kukirim dulu keinginanku
lewat nyanyian ombak, dan senja laut
ketahuilah: aku menjemputmu

dan kepada laut: jagalah dia di pelukanmu
sampai aku
hilang rindu


Sumber : kumpulankaryapuisi.blogspot.com





2. Secangkir Kopi
Adi Nugroho

Tuangkan segelas kopi hitam,legam,juga malammalam. Taburkan beberapa butir gulagula, yang membuat kita gila sebab memilih bersama. Aduklah dengan perlahan seperti dulu aku mendekatimu, berhentilah disaat kau rasa cukup. Sebab gula tak patut larut seluruhnya, biarkan kita menengok kembali apa yang telah kita lakukan. Berbekaskah ia? begitu juga kita pada cinta, mengejar cinta tidak bisa selamanya, sampai kita larut habis, mati tak bersisa kita. Sebab cinta bermukim pada batasbatas yang tak mudah dilihat, rasakan ia dengan hati. Seperti mengaduk kopi yang kau rasa perlu sudahi dan tibalah waktu kau seduh di bibir gemburmu.

Ku aduk segelas kopi
bercampur ragu bertabur gula batu
kuaduk berputar dalam ruang waktu,
lalu
kehampaan ada dalam tiap putaran itu...
Gula melarut air memanis..
Terangkat sendok besi,memanja gelas kaca,
relung kaca yang kelindan
Mata air air mata yang sedusedan
larut dalam kedipan bersama gula

Secangkir kopi, merangkum elegi berbulirbulir pasir. kau hanya mengenal kopi pekat, yang sedianya kau pesan dan siapkan: lewat sandiwara kita dari mejamakan ke meja makan. Dan kau bilang “Cinta kita bermula dari meja makan, yang sewaktuwaktu perlu kita singgahi untuk membicarakan aku, kau, dan cinta” sebab itu Kau pilihkan aku kopi hitam pekat, yang membuatku terjaga dan terikat padamu. Mata yang terjaga membaca buah ceri merah di bawah hidungmu.

Pada secangkir kopi, kita sepakati perjalanan hari. Pada segelas kopi yang ketas, kita berjanji bahwa semua selesai, ketika ada cinta. Pada deras panas gelas kopi, kita mencatat tentang halhal yang akan menjadi rahasia kenangan. Sebab hidup adalah memilah kenangan. Meski nanti, resah saat segalanya pergi dan tak kembali. Dan secangkir kopi, membuat kita terjaga pada cinta.

Tak perlu kita habiskan kopi
Sebab nanti
Kita akan kembali ke sini
Meski sekadar mengusap air mata yang tertumpah
Pada meja makan tua ini



3. Kenangan
Adi Nugroho


Kenanglah
Bahwa kau pernah bersamaku, pada detik yang kita sebut kemarin, pada rentang yang kita namai masa lalu. Jika akhirnya kini, entah sejak dulu ataukah sebelum kau bersamaku, aku tak memainkan detak lagi, kenanglah, setidaknya aku pernah menyebut namamu, sesekali di lamunanmu. Sebab, mengenang adalah langkah puisi paling indah dalam mencatat masa depan. Dan kenanglah, sepuas kau ingat, sebab melupakan adalah siasia.
 
Secawan air hujan aku tadahkan, seluas wajah kita dulu, di antara rintihrintih genting terbentur rintikrintik hujan di horizon. Aku tertawa dan menangis dalam satu langit, bernyanyi perihal masa silam
 
Kenanglah
dari rahim rindu yang gembur
masa depan yang tersumbat
lalu hadir di ujung lorong, menyambutmu pada sebuah malam dingin
 
langit yang hampa, terang perlahan hilang, di antara matahari dan bulan
aku datang berayun di sudut lentik bulu matamu, bersiap berjalan lewat poripori kulitmu yang membuka dan menutup malu. Hendak aku berlari ke serambi hatimu, yang ingin aku bersemayam di dalamnya setelah lama kosong tak bertuan. Kenanglah sepuas kau mengenang, sebab aku telah bernisan bersemayam pada serambi kamar hatimu.
 
Bila kehilangan adalah keramat
Biarkan kita saling hilang dan menyilang
dari kehilanganlah aku belajar mengenang
dan mengenang membawaku pada arti memiliki
 
aku tak pernah tahu kau akan kemana,
dari nirwana aku hanya bisa tersenyum melihat kau memetik kenangan




4. Di tengah Hujan

Adi Nugroho


Tubuhnya basah, kuyup dikukup hujan. Dan di seberang, seorang wanita masih berdiri pada tepian jalan. Tampak suntuk terkantuk, matanya sayu seperti pilas, dibelai angin dingin malam kota. Adakah yang dinanti? Rambutnya yang melambai, kisut awutawut disapuh buih. Wajahnya tampak sedih. Bagai menahan perih lukaduka
 
Hendak kemana ia? Rendarenda pakaian gugur dilipur. Seakan hujan adalah atap ketenangan. Seakan hujan, mereda kemarahan. Ia Menarinari tanpa ragu dalam ketukrintik hujan. Dari lalulalang lelah sampai kota basah, tak ada lagi yang bisa menyapanya. Sungguh penuh tanya, adakah rindu semadu menunggu hujan reda. Bila tak ada yang dirindukan, haruskah mencintai hujan. Berdiam diri hirau disapu hujan yang suaranya kian sengau. Senarai wajahnya yang lunglai menjadi jawab, hujan adalah kepasrahan. Hujan tak perlu dicintai, tapi menjadi milik orangoorang yang kadung disekap rindu. saat airmata mengucur, carilah hujan yang siap berbagi kerapuhan.
 
Wanita itu masih kaku, dan semakin lugu di basah kota, yang lekang dari lalulalang. Kau memang sendiri, tapi pada hujan kau bisa dapatkan hilang sepi. Begitu mungkin pikirmu, dari kebas tanganmu yang mengembang. Wajahmu tengadah pasrah pada awan. Berharap hujan terus datang. Bahwa hidup boleh hampa, tapi pada hujan kau meramu rasa. Kau mengembang senyum juga, dari rimbun bulir air. Kemana lagi harus merindu, saat tak ada yang ditunggu, kecuali pada hujan. Meskikah mengutuk hujan, bila rintikrintiknya melantunkan lagu kerinduan. Dan hujan tanpa kenangan, adalah sepi paling tepi.
 
Wanita itu pun hilang bersama hujan.
Pada genang jalan, senyummu mengembang tenang.



Sumber: http://oase.kompas.com