small

Tampilkan postingan dengan label nama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Oktober 2013

Aku Mencintai Kejauhan | Adi Nugroho *****

1. Aku Mencintai Kejauhan (1)

Karena kita jauh. Semua menjadi serba riuh. Mudah merindu pada waktu-waktu yang terbentang dari subuh ke subuh. Kalau boleh jujur, aku pun mencintaimu karena kita jauh. Namun, mengajarkanku bagaimana dekat denganmu. Jauh dari tatapan mata, membimbingku pada kemuliaan padamu. saat kau dihadapku jauh dari ekspresi jiwa, aku mepersiapkan segala rupa kebahagiaan untukmu. bahkan jauh dari sekadar bertegur sapa lewat awan biru, menuntunku untuk melantunkan keberkahan jiwa kala bersapa padamu. Dan jauhlah yang mengajariku makna cinta. Agar aku bisa mencinta secara perlahan, bermula ungkapan kata-kata yang terjalin dari goresan makna. Aku mulai tahu namamu, siapa dirimu. Semua serba indah, aku mencintaimu pada pandangan pertama dan pandangan selanjutnya sampai surga membersamai kita. Karena jauhlah, aku tahu indahnya kedekatan kita.


2. Lilin Kecil

Tanganku masih menengadah dibawahmu. Untuk menampung bagian tubuhmu yang lumer terbakar api. Sampai kapan kau akan tetap begitu. Dirimu begitu banyak didekati,tak kurang seribu kunang bermain di sampingmu. Juga tak hilang tiap pujangga menyebut namamu. Tapi, kenapa? Kau tega menghabiskan tubuhmu untuk menebar cinta. Kau bakar dirimu untuk menyulut senja. Namun, diriku tetap menjagamu. Menampung sisa tubuhmu dengan sedikit sumbu. Kau tetap lilin kecilku. Meski kau tak seperti dulu



Tetes embun matamukah itu
Yang menyeka gurat wajah yang siluet
dari tampiasnya awan di pelupuk alis
sebab bola matamu telah menggelinding
ke ufuk hatiku

siapa lagi? Itu pasti kamu

lautan senyummukah itu
yang membasahi tidur malamku

itu pasti kamu

yang menuliskan sajak dikulit dadaku
dan berakhir diselaput jantungku


4. NAMAMU
Telah kupahat namamu
dibatu itu,
dengan air mata kesenyapan.
kau pergi membawa debu.
Hinga tersisa batu.
Bertanggal hari kepergiamu



5. Bertukar Senja
Hari ini kita bertukar senja 
Kau bungkus dengan rona
Dan aku membingkisnya lewat aurora
Lalu kita membisiknya sebagai cinta

Liang-liang jurang sajak di ruang tunggu
Menyelip kerlip, kau memanja lagu
Berayun-ayun di akar lentik mataku
Aku suka menyebutnya sebagai rindu
Itu terjadi di malam yang demam
Kala doaku menderas menyungai di garis wajahku

Lalu menguap namamu
Dan membuka suaramu dilemari hati

Kin senja telah bertukar, kau peluk jnatungku
Dan kukecup aliran darahmu
Kini malam, sudahlah waktu tidur.
Biar esok kita bertukar fajar

Dilekung air laut aku temukan
Cinta itu engkau lewat deras arus buih
Rindu itu engkau, pada jejak langkah siang dan malam
Aku pun engkau, di detik detak jantungku


Sumber: ijonkmuhammad.tumblr.com



Rabu, 18 September 2013

Nama-nama dan Ingatan

Nama-nama dan Ingatan

Tiba-tiba begitu sulit mengingat namamu
padahal aku telah berada dalam tubuhmu. Kuhafal
benar suaramu, berlarian dan bergelantungan
di daun telinga dan kedua lenganku. Sering
tiba-tiba kau mematikan lampu dan bertanya

Siapa namamu?

Maka diamlah gelap
biar kuurai lubuk tubuhmu
agar nama-nama bebas dari ingatanku

Ke dataran jauh aku menghembus
membakar seluruh pakaian, sepatu, dan mantel
hujan yang pernah kukenakan. Kubiarkan asapnya
menyelubungi ingatan seolah leluhur
yang mengelilingiku

Suaramu menggema di lantai dasar sebuah hotel
sejenis erang yang membuat selimutku basah
dan tubuhku menjadi demam. Sekali lagi
kau mematikan lampu dan bertanya,

Siapa namamu?

Maka diamlah tubuh
biar kuurai seluruh ingatan, memisahkan
nama-nama dari hasrat yang menamainya
memulangkannya ke dalam suaramu
yang berlarian dan bergantungan
di daun telinga dan  kedua
lenganku

2010

Rabu, 08 Mei 2013

Kamu Kenapa

gambar: otherpriceless.blogspot.com


Kamu Kenapa

kamu
kenapa?
mendadak dingin, mendadak gigil
tak seperti biasa

kamu
kenapa?
tak lagi mesra, tak lagi manja
tak terasa

kamu
kenapa?
mendadak angkuh, mendadak diam
tak lagi menyapa

kamu
kenapa?
tak lagi hangat, tak lagi bersahabat
jahat

kamu...
kenapa berubah?

-Mentari Meida-




Siang dan Malam

malam tak pernah menunggu pagi datang
ia ikhlas saja melaksanakan tugasnya
tak meminta ada bintang atau rembulan
malam tetap setia
hingga fajar lahir di timur
maka usai lah baktinya.

siang tak pernah menunggu petang
ia tetap terang
meski berawan meski terik
saat senja datang ia bisa pulang dengan tenang

jika suatu pagi atau petang mereka tak pernah saling menjumpai lagi
(mungkin) ketika itu Tuhan sudah jengah dengan manusia


-Mentari Meida-





240710
Kita jangan bertatap muka ya.
Aku takut.
Kita buat janji saja.
Tunggu di persimpangan, di ujung jalan itu.

Kalau kau lebih dulu menemui punggungku, lihat saja, jangan memanggil.
Begitu juga aku.
ketika aku melihat punggungmu, maka hanya akan kutatap tanpa mendekat.

Kita sudah bertemu.
Kau dan aku tahu, kita ada.


-Mentari Meida-





Mahluk Itu Bernama Sepi


Aku bertanya pada bintang
“Apa itu sepi?”
Bintang menjawab: “Tunggu lah malam pekat, saat kau lihat aku menghilang.”

Aku bertanya pada malam
“Apa itu sepi?”
Malam menjawab: “Tunggu lah pagi hari, saat kau jumpai kabut memudar.”

Aku bertanya pada kabut
“Apa itu sepi?”
Kabut menjawab: “Tunggu lah mentari terbit, saat kau lihat rona merahnya di Timur.”

Aku bertanya pada mentari
“Apa itu sepi?”
Mentari menjawab: “Saat Mentari sendiri, itu lah sepi.”


-Mentari Meida-




Satu
Tuhan, berikan lah cahaya terang pada akhir jalan ini.
semoga langkah kami yang mengarah ke sana ringan dan damai.
langkah aku dan dia.

Tuhan, berikan lah pelangi pada langit-langit gelap.
setelah hujan deras yang menimpa.
membasahi aku dan dia.

Tuhan, nanti di akhir kisah, mungkin, akan ditemui persimpangan.
setelah kami lewati jalan, meski berliku-liku.
Kumohon, sampaikan lah kami di satu tujuan yang sama.


-Mentari Meida-



Lelaki

ada apa dengan lelaki?
iblis kah mereka?
yang mampu menjebak hawa dalam dosa
lalu mereka tertawa bahagia
terkutuklah kalian para kaum adam
aku wanita menyumpahi
atas nama sakit hati dan rasa kecewa
serta berbagai ribu luka

ada apa dengan lelaki
yang hanya ingin bebas dan lepas
yang selalu senang lari dari masalah
kalian yang para pendosa
terkutuklah engkau
wahai para lelaki yang kucinta
biar derita menyelubungimu
tak terhapus dosa
hingga kau menuju neraka!


-Mentari Meida-



Sun & Rain falling in love

Dan, ia selalu bilang…
Pelangi, yang muncul setelah Hujan reda, tak kan ada jika Mentari tak berperan serta membantu Hujan membuatnya. 
Maka wajarlah jika Mentari begitu mencintai Hujan. 
Yang setiap rintik gerimisnya buatkan sinarnya teduh. 
Lalu, bukankah juga sebaliknya.
Ketika Hujan mencintai mentari.
Ketika ia duka dalam mendung. 
Lalu menangis pada gerimis. 
Maka, Mentari bantu ciptakan Pelangi. 
Mentari cintai hujan. 
Karena ia yang paling mengerti dukanya. 
Sedihnya ditemani mendung dan tangisnya disamarkan gerimis. 
Di luar ia memang bersinar. 
Tapi, siapa yang tahu lukanya. 
Hanya Hujan yang paling setia. 
Maka, saat Mentari dan Hujan jatuh cinta
Lihatlah…
Ada Pelangi di langit sana


-Mentari Meida-



Mengapa Aku
Mengapa rumput ingin tetap hijau, meski terik mentari panas membakar. 
Mengapa bunga ingin tetap mekar, meski udara membuatnya layu.
Mengapa bulan ingin tetap bersinar, meski bintang tak menemani.
Mengapa pohon ingin tetap berkembang, meski angin gugurkan daunnya.
Mengapa aku ingin tetap di sini, meski ia perlahan pergi.



-Mentari Meida-



Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Senin, 06 Mei 2013

Pusara Cinta

gambar: puisigalau.net


Pusara Cinta
cinta
kita

menggali makam sendiri
mencari liang untuk kita tiduri nanti
pada masa yang paling abadi

pada tanah merah
yang kadang basah atau kerontang
kita tentu mencari selimut yang paling nyaman untuk menemani
sehingga nanti kita bisa indah bermimpi

rasa masih begini anomali
nama kita tak akan mengukir lagi
di nisan yang sama

kita sudah sampai di sini
aku akan mengenang, menziarahi
sekadar mempusarai
kita pernah sehati


-Dalam perjalanan ke Depok, 11 Desember 2010-
Mentari Meida



Kita Adalah Nol

kau tidak akan kehilangan
sebab kita tidak pernah punya apa-apa
tak ada yang (sungguh-sungguh) datang
dan pergi

kita tak kan pernah kehilangan
semua milikNya
milikNya

kita adalah nol


Jakarta, 3 desember 2010
Mentari Meida




Aku Menulis Namamu Di Gerimis
aku menulis namamu di gerimis*
pada hujan yang turun malam-malam
atau datang kepagian
supaya kau jatuh, membaur
bersama genangan

aku menulis namamu di gerimis
biar kau mengalir
pergi jauh ke muara

pulang saja ke asalmu!


Jakarta, 2 Desember 2010
Mentari Meida




Jika Aku Ucapkan Selamat Tinggal
mungkin aku akan merindukanmu, suatu hari
ketika langit cerah. menanyai hati sendiri
bagaimana kabarmu hari ini?

mungkin aku akan merindukan kotamu
suasananya, petang yang kita gemari
atau pagi-pagi yang kita sambut dengan senyuman

aku pasti merindukan Ibu, yang selalu mendoakan
kebahagiaan kita. yang selalu mengusap ubun-ubunku
pelan-pelan setelah ia membuat Salib
antara dahi, dada, dan bahunya

mengucapkan doa-doa kristiani
yang entah bagaimana pun caranya
ia hanya mendoakan kita

jika aku mengucapkan selamat tinggal
mungkinkah kau menjadi lebih bahagia?
mungkinkah aku menyesal?
mungkinkah?
mungkin.

Jakarta, 30 November 2010
Mentari Meida




Menunggu Waktu
kita seperti menunggu waktu
menunggu, menunggu, tanpa tuju
sementara detik detik setia, seperti tak ada habisnya
mengukir kenangan kita
yang mungkin nanti tersisa

sementara kita hanya menunggu
seperti sebuah kebodohan
tapi seseorang berkata, "kau hanya ketakutan."
ketakutan yang memenjarakan
membuang-buang waktu pada yang (mungkin) menunggu di luar sana.

sayang, kita hanya menunggu karena ketakutan
yang begitu tak terkira. sementara kau kira laju?

padahal kita berjalan di tempat, dalam kabut lindap
dalam gelap tak berpelita, tanpa arah tujuan

Jakarta, 2 November 2010
Mentari Meida



Alamat
pada bayu menderu
kutitipkan pesan

suatu pagi adakah kau dengar
gemerisik dedaunan lepas

sampaikah ia di alamatmu?
Thursday, October 14, 2010Mentari Meida




Ombak dan Perahu Kertas
aku titipkan duka pada laut
biar ia mengambang, timbul tenggelam
kamu adalah ombak
nanti datang nanti menghilang

aku perahu kertas
berlayar tanpa arah
mengikutimu saja
kadang karam kadang menerjang

bawa aku dengan arusmu
yang kencang dan tajam
sampaikan aku pada daratan
biar nanti di sana kutinggalkan
semua luka-luka
mengering
terlupakan

Friday, August 20, 2010
Mentari Meida


Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Sabtu, 04 Mei 2013

Kukubur Kenangan

gambar: fos-community.com


Kukubur Kenangan
ada lubang yang kugali
untuk kuburmu
pada suatu pagi yang benderang
dan hangat. tapi getir hatiku
ku berlari ke belakang
masa silam
mengumpulkan segala kenangan
tentangmu

pertemuan dalam ruang
di sebuah persimpangan maya
ketika hatimu puing
dan tak tahu ingin kemana
ketika namaku disebut
yang ternyata pernah juga
kau berikan untuknya
lalu segala cerita juga tawa
kekesalan malam-malam kita
juga gelak sebab kelakar mesra

untuk apa kuletakkan lagi semuanya
dalam kotak kaca
yang selalu kupandangi ketika
rindu hinggap di atas genting

hujan telah menciptakan sungai
mengalir deras di pipiku
peti kayu telah kusiapkan
yang akan membusuk seiring waktu
melebur pada ragamu bersamaan
kuletakkan segala kenangan di dalamnya

kuburmu siap, sayang
telah kugali, tanganku sendiri
kenangan akanmu
kulupakan
lelaplah kau bersama rahasia
yang kau buat hanya untuknya



Jakarta, 12 Mei, 2011
@mentarimeida




Kuhapus Jejakmu

kuhapus jejakmu dalam malam
tanpa perlu ada lagi yang kita simpan dalam ingatan
kau pekat
jauhlah jauh
merayap pada dinding
kelam
sementara jam henti berdetik


Jakarta, 10 Mei, 2011
@mentarimeida



Nama Pada Batu Nisan

kau hanya nama pada batu nisan
yang kadang kuziarahi,
kutangisi kepergiaannya

kau hanya nama pada batu nisan
diam dan dingin
meski kuasini dengan hujan
airmata

kau hanya nama pada batu nisan
tempat terkubur segala memori
makam sakit hati


Jakarta, 3 Mei 2011
@mentarimeida




Sebuah Perjalanan

apa yang kau ingat di belakang
setelah jejakmu satu-satu menghilang
dalam sebuah perjalanan
tubuh yang lunglai atau jiwa
yang berbahagia

sementara kesunyian terus begini
apa lagi yang kau mau
semoga jalan tak sesat
dan kau masih ingat pulang



Jakarta, 29 April, 2011
@mentarimeida




Rindu

Pagi, Tuhanku pencipta segala rasa, juga rindu. Semalaman seharian rasa melayang pada sang petualang. Apa kabarnya, wahai Tuhan Yang Maha Tahu? Adakah aku yang pertama di pelupuk matanya pagi ini? Atau ia terlelap masih. Sehingga selamat pagi yang biasa luput.

Manis madu suaranya malam itu. Angin yang sepoi membelai wajahku yang rona merah jambu. Malu juga rindu. Adakah ia tahu?

Duhai.
Apa gerangan dalam hati. Namanya saja yang berkumandang. Tapi belum selesai senyum kurakit, seperti layang-layang, ia sudah terbang. Putus ditangan yang abai menggenggam benang.


Jakarta, 6 April 2011
@mentarimeida



Sumber: perempuanbulanmei.blogspot.com

Kamis, 25 November 2010

Bidadari yang kembali kusebut namanya

Hampir satu tahun terlalui
Sebuah hasrat diri kembali
melampaui batas rasa teringini
Hanya untuk mengetahui kabarnya kini
Dia yang pernah bermain di dalam hati
Memberi mimpi-mimpi yang membuai diri
Pernah kurajut benang-benang mimpi
Menjadi sebuah kenyataan yang tak terjadi
Memang kisah kita itu indah
Walau kita terikat dalam kisah yang salah
tapi jangan lah pernah tersesali
Karena sebuah cinta sejati tak memiliki
BIdadari yang kembali kusebut namanya
Dihatimu mungkin tersimpan luka
Diwaktu ku ini ijinkan aku meminta
Untuk bisa termaafkan atas luka didada
Kudengar kabarmu kini telah bersamanya
Membuat janji tuk hidup bersama
Teriring doa agar kau selalu bahagia
Dari angin mu yang selalu mencinta

Best Regard
Erwin Arianto,SEDepok 15 Agustus 2008